Diagnosis Disleksia Belum Komprehensif

By | February 28, 2014
Diagnosis Disleksia Belum KomprehensifIlustrasi (stock.xchg)

Jakarta, Psikologi Zone – Anak dengan disleksia kerap kali kasulitan dalam menulis, membaca, mengeja dan berhitung, tetapi mereka sebenarnya memiliki tingkat inteligensi yang normal atau bahkan melebihi rata-rata.

“Mereka masih sulit dikenali, atau bahkan tidak terdiagnosis oleh dokter,” kata dr Irawan Mangunatmadja SpA(K), ketua unit Kelompok Kerja Saraf Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kamis (26/7).

Walaupun begitu, tidak sedikit anak yang mengalami masalah dalam menulis, membaca dan mengeja dianggap mengalami disleksia. Kenyataannya belum tentu demikian. Lebih parah lagi banyak anggapan bahwa anak hiperaktif, autistik, epilepsi tipe lena dan retardasi mental adalah disleksia.

Psikolog Mayke S Tedjasaputra mengatakan bahwa diagnosis disleksia belum begitu ditegakkan secara komprehensif atau lintas keahlian. Hal terburuk dapat membuat anak yang tidak mengalami disleksia tetapi justru terjerat dalam kategori disleksia.

“Diagnosis harus ditegakkan secara kerja sama, antara neurolog anak dengan psikolog,” kata psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Mayke mengatakan, tes baca tulis belum dapat menjadi pegangan dalam menentukan diagnosis disleksia. Pemeriksaan psikologis kadang diperlukan sebanyak dua kali atau bahkan lebih, hingga psikolog dapat memiliki gambaran keseluruhan dari hasil observasi.

“Pada anak yang tidak bisa fokus meski tak hiperaktif atau pada anak dengan IQ baik tapi tampak ada penurunan, psikolog mesti menunggu, tak boleh memaksakan untuk melanjutkan tes,” jelasnya.

Dr Purboyo Solek SpA(K) juga ikut menegaskan bahwa diagnosis disleksia tidak diperbolehkan untuk diberikan pada anak dengan tuna rungu atau tuna netra, juga untuk anak sindrom down.

Purboyo menyesalkan ada banyak terapi alternatif yang mengaku dapat mengatasi disleksia. Padahal terapi yang diperbolehkan seharusnya adalah terapi berbasis bukti (evidence based therapy).

“Brain gym dan pengaktifan otak tengah yang belakangan marak dipromosikan bukan solusi disleksia,” tegas konsultan Asosiasi Disleksia Indonesia ini.

Ia mengatakan, tidak ada yang bisa disembuhkan dari disleksia, namun hanya akan semakin samar. Hal ini bisa dikarenakan mereka mampu menemukan cara lain untuk membaca, mengeja dan menulis. (rpk/mba)

Powered by WPeMatico

Leave a Reply