Skip to content

Mengenal Lebih Dekat 8 Gaya Model Kepemimpinan pada Alat Tes MSDT

Model Gaya Kepemimpinan MSDTMSDT merupakan alat tes yang didisain dengan sandaran teori dari J.W. Reddin tentang teori 3 D yaitu theory of managerial effectivnes, atau yang dapat di sebut dengan dimensi gaya manajemen yang efektif. Dari dasar teori tersebut mengacu pada hal yang situasional atau leadership theory dari Blanchard dan juga Harsey.

Selanjutnya Reddin dalam teorinya membagi model gaya kepemimpinan manajemen MSDT menjadi 8 kategori yang spesifik yaitu; Deserter, Missionary, Autocratic, Compromiser, Bureaucratic, Developer, Benevolent Autocratic, Executive.

Hal tersebut dapat kita jabarkan sebagai berikut

Model Gaya Kepemimpinan MSDT

  1. Deserter

Model gaya kepemimpinan MSDT yang satu ini adalah tipe gaya dalam manajemen yang suka mengabaikan sebuah permasalahan, tak mau bertanggung jawab atau yang dapat di istilahkan dengan laisser-faire, dan mencucui tangan (tak mau di salahkan). Tipe dalam gaya kepemimpinan seperti ini lebih cenderung untuk mengabaikan keterlibatan ataupun intervensi yang dapat menjadikan sebuah situasi yang di anggapnya rumit.

Sikapnya pun akan selalu berubah untuk mencoba netral pada apa yang terjadi di dalam keseharian, mencoba untuk mencari jalan agar dapat menghindari aturan yang ia anggap sedikit menyulitkan.

Pola yang ia coba adalah tetap menyelaraskan apa yang ada, antara atasan dan juga bawahan, dan mengindari dari perubahan rencana. Pola ini pun akan nampak secara sistem manajerial yang defensive. Misalkan saja ada sebuah kebijakan yang di anggap menyulitkan bawahan, maka ia pun akan mengatakan bahwa saya hanya menjalankan suatu perintah, dari kebijakan daripada atasan.

Tipe gaya kepemimpinan manajerial ini tak selalu buruk dalam di aplikasikan, hanya saja tipe gaya kepemimpinan manajerial ini berupaya dalam menjaga status-quo dan juga menghindari dari perubahan yang drastic atau berupa guncangan di dalam tubuh manajemen

  1. Missionary

Pendekatan tipe gaya ini adalah menggunakan unsur afektif yang cenderung kental. Missionary berupaya mendorong sebuah situasi positif dalam sistem manajemen dengan memberikan kandungan yang sensitive, kepedulian pada sesame, dan hal hal lain yang seringkali dianggap penting untuk meningkatkan produktifitas dan kinerja lewat sentuhan emosi atau perasaan.

Model Gaya kepemimpinan manajerial ini berupaya untuk selalu menjaga orang lain, termasuk bawahannya sendiri dalam situasi yang berbahagia di kondisi apapun. Perilaku untuk mengajak menunjukkan bagian paling penting dari gaya yang ia tunjukkan.

Tipe gaya kepemimpinan ini kurang efektif dalam manajemen yang minim ketersediaan peluang konflik, yang mana ia akan berupaya untuk halus dalam mengajak yang padaha banyak pekerjaan di dalamnya membutuhkan ketegasan para manajemen.

  1. Autocratic

Model gaya kepemimpinan ini memiliki pendekatan yang memiliki pengarahan kurang efektif. Gaya seperti ini cenderung lebih perhatian kepada mereka yang memiliki produktivitas dan hasil. Skor yang tinggi seringkali dianggap sebagai manajer yang formil, dimana mereka memberikan tugas pada bawahan hanya berdasarkan instruksi dan juga mengawasi secara ketat untuk prosesnya.

Kesalahan sedikit, cenderung sulit untuk ditolelir mereka (para manajer) yang memiliki pola kepemimpinan seperti ini. Bagi anda para bawahan yang memiliki manajer seperti ini maka sebaiknya untuk menghindari kesalahan dalam mengerjakan segala sesuatu. Kebijakan dalam hal apapunn adalah urusan atasan sementara itu, bawahan cukup untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan tanpa alasan untuk membuang-buang waktu.

Di dalam tipe ini, para bawahan akan dianggap dingin atasan, terutama mereka (bawahan) yang membutuhkan lebih daripada hanya sekedar tugas untuk dikerjakan seperti dorongan dan juga pengakuan hingga dukungan atasan.

  1. Compromiser

Gaya ini memiliki ciri mengandalkan tugas dan juga relasi yang seimbang, namun gaya ini seringkali dianggap kurang memiliki keefektifan, karena sulit untuk mengintegrasikan suatu tuntutan pekerjaan dan hubungan keseharian. Gaya ini pun akan semakin membingungkan antara pengaturan tugas dan juga kebutuhan dalam berinteraksi.

Dalam menghadapi sebuah tekanan, maka mereka (manajer) akan cenderung untuk kompromi sehingga beragam tujuan seringkali menyimpang atau tidak sesuai dengan waktu maupun target yang telah di tetapkan. Sensitifitas pada hubungan lebih sering mengubah alasan terhadap tujuan awal.

  1. Bureaucratic

Tipe gaya manajemen ini adalah tipe procedural, dan berdasr pada aturan atau tata laksana dengan tulus untuk menerima hirarki kewenangan. Gaya ini merupakan simbol dari hubungan manajemen yang formal dalam bersikap. Skor tinggi memiliki arti sistematik. Fungsi dan juga peran para pemimpin tipe birokrat akan sangat optimal dalam situasi ang terstruktur dengan sebuah pola procedural yang jelas, walaupun prosedur tersebut memiliki tingkat kerumitan tinggi.

  1. Developer

Model gaya kepemimpinan manajerial sisi efektif dari tipe gaya kepemimpinan manajerial missionary. Tujuan dari gaya ini adalah untuk bertindak secara professional tanpa sedikitpun mengesampingkan suatu aspek emosi dari bawahan. Bawahan akan diberikan kesempaan dalam memberikan ide, pandangan maupun peran lebih daripada kebijakan yang ada untuk mengembangkan sebuah potensi.

Kontribusi dari bawahan yang diberikan padanya pun sangat diperhatikan. Skor tinggi memiliki keyakinan yang optimis tentang para individu untuk bekerja dan menghasilkan. Sifat pendekatannya berupa kolegial, yang mana bawahan sebagai patner bukan cuma sebagai pembantu dalam mengerjakan segala sesuatu.

Tipe gaya ini merupakan orang-orang manajer yang senang untuk berbagi pengetahuan dan juga keahlian dan potensi bawahan pun akan dioptimalkannya.

  1. Benevolent Autocratic

Tipe gaya benevolent autocratic memiliki sisi pengendalian dan juga pengarahan yang komunikatif dalam melakukan gaya otokratik. Tipe ini efektif karena memberi unsur komunikatif tadi. Namun gaya ini masih mengandalakan suatu instruksi dan intervensi..

Skor tinggi yang dimiliki dilihat sebagai seorang guru dalam memberikan tugas pada bawahan, dimana ia dapat memberikan suatu instruksi dengan baik tanpa mengesampingkan komunikasi pada bawahan secara lebih fleksibel.

Pola ini dilakukan dengan tidak meninggalkan bawahan dengan memberikan kesediaan bertanya, membantu ia apabila ada yang ia anggap kurang atau menyimpang. Mereka tidak ragu untuk memberikan perintah, dan tak ragu pula dalam memberikan hukuman namun tetap adil dalam bersikap. Gaya ini mungkin baik dalam sisi kerjasama namun mereka yang memiliki kecendrungan gaya ini menghindari hubungan yang bersifat personal.

  1. Executive

Gaya ini dianggap efektif dikarenakan dapat mengolah dengan baik dalam bertugas dan juga berhubungan. Model ini memiliki sisi efektif daripada gaya kompromis. Polanya pun dilakukan dengan mengintegrasikan antara tugas dan juga hubungan dengan baik, memanfaatkan kedua aspek dengan sinergi yang sangat optimal dalam mengelola manajemen.

Pendekatan ini merupakan pendekatan dan gaya kepemimpinan paling baik di antara gaya kepemimpinan lain. Karena sifat dari gaya kepemimpinan executive adalah melibatkan semua unsur keunggulan daripada semua pendekatan gaya yang ada. Ia pun seringkali dianggap sebagai motivator dalam manajemen. Anda juga dapat memahami tipe gaya kepemimpinan dalam psikologi dahulu, agar lebih menambah wawasan keilmuan.

Hubungi kami via SMS / Whatsapp ? Telepon di 08563152632 (Wahyu)

Artikel disadur dari www.psikoma.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: