Tes Bakat Menurut Ahli : Sejarah dan Perkembangannya

By | June 12, 2017

Sejarah dan Perkembangan Teori Tes Bakat Menurut Para Ahli – Pengertian sejarah dan perkembangan teori tes bakat perlu dipahami sehingga nature tes dapat dimengerti dan penggunaannya tidak keliru. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami sejarah dan perkembangan teori yang mendasari tes bakat.

Sejarah Perkembangan Tes Bakat

Pengukuran tes Bakat berkembang karena:

  • Berkembangnya pemahaman bahwa ternyata terdapat variasi intraindividual yang dapat dilihat pada subtes tes inteligensi tradisional.
    Akan tetapi tes inteligensi tradisional tidak dirancang utk hal ini. Bila ini akan dilakukan maka tes nya harus didisain khusus sehingga reliabilitasnya tes maupun subtesnya tinggi. Sementara pada tes Intelegensi tradisional, item yang memiliki korelasi kecil dengan item yang lain dihilangkan, padahal untuk melihat variasi intraindividual bisa jadi item tersebut seharusnya dipertahankan.
  • Tes inteligensi tradisional tidak seumum yang diperkirakan sebelumnya.
    Rata-rata tes inteligensi tradisional setelah ditelaah ternyata lebih banyak mengukur kemampuan verbal.
  • Makin berkembangnya konseling karir sehingga diperlukan tes bakat spesifik.
    Dalam hal ini berkembang tes bakat yang tertentu yang menjadi suplemen dari tes inteligensi, cth : tes utk pilot, tes mechanical utk engineer.
  • Penerapan teknik analisis faktor dalam pengembangan batere tes.
    Dengan analisis faktor, berbagai kemampuan yang berbeda dapat dikelompokkan sehingga dapat lebih sistematis diidentifikasi, dipilah, dan didefinisikan.

 

Sejarah dan Perkembangan Teori Tes Bakat Menurut Para Ahli_

Faktor Analisis (Factor Analysis)

Merupakan teknik statistik yang digunakan untuk menyederhanakan / meringkas deskripsi data dengan mengurangi banyaknya variabel atau dimensi yang diperlukan. Teknik ini kemudian dipergunakan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok kemampuan atau perilaku atau traits yang berhubungan satu sama lain.

Contoh:

  • 5 faktor / skor dapat mewakili 20 skor asli dari satu betere yang terdiri dari 20 tes. 5 skor tersebut dapat dipakai tanpa mengorbankan informasi penting apapun (diambil tes yang paling baik faktornya)  Caranya dengan mempertahankan tes-tes yang mewakili pengukur terbaik melalui analisis faktor.
  • Satu faktor ditemukan pada subtest berikut: mengingat sejumlah angka, menceritakan kembali sebuah cerita, merekonstruksi bentuk ingatan à setelah ditelaah, subtest tersebut merupakan faktor ingatan.

Proses Interpretasi faktor:

  • Faktor-faktor yang ditemukan diberi nama menggunakan insight psikologis (psychological insights), tidak lagi interpretasi statistik.
  • Memahami perwujudan faktor tertentu dengan memeriksa tes yang memiliki muatan tinggi dan proses psikologis yang sama-sama dimiliki à makin banyak tes yang memiliki muatan tinggi pada faktor tertentu, maka makin mudah mendefinisikan perwujudan faktor.
TEST FACTOR 1 FACTOR 2
1. Vocabulary .91 -.06
2. Analogies .75 .02
3. Sentence Completion .80 .00
4. Disarranged Sentences .39 -.02
5. Reading Comprehension .86 -.04
6. Addition -.09 .55
7. Multiplication .07 .64
8. Arithmetic Problems .18 .68
9. Equation Relations .16 .54
10. Number Series Completion .13 .38

Berdasarkan data di atas, setelah dianalisis menggunakan analisis faktor, maka terlihat bahwa:

  • Faktor 1 = Verbal (Vocabulary, analogies, sentence completion, disarranged sentences, reading comprehension) à perhatikan bahwa korelasinya cukup tinggi untuk faktor 1.
  • Faktor 2 = Numerical (Addition, multiplication, arithmetic, equation, number series completion) à perhatikan bahwa korelasinya cukup tinggi untuk faktor 2.

Macam Faktor dan Perkembangan Faktor

  • Unsur perilaku yang terorganisir dalam kelompok tertentu banyak dipengaruhi oleh faktor herediter dan pengalaman. Contoh: sekolah banyak mengembangkan faktor verbal.
  • Perbedaan pola faktor berasosiasi dgn perbedaan budaya, sosial ekonomi, kurikulum sekolah, dan learning set serta transfer of training (tampak dari penyelesaian seseorang terhdapa suatu tugas) penelitian dari French and Frederiksen.

Teori Organisasi Perangai (Trait)

Penyusunan Tes Bakat juga berkembang dengan adanya Teori Organisasi Perangai, sebagai berikut:

  1. Teori Dua Faktor / Two Factor Theory (Charles Spearman, 1904)
  2. Teori Faktor Majemuk / Multiple Factor Theory (Kelley and Thurstone)
  3. Teori Struktur Intelek / Structure of Intellect Model (Guilford)
  4. Teori Hirarki / Hierarchical Theories (Humphrey & Vernon)

Teori Dua Faktor / Two Factor Theory (Charles Spearman, 1904)

Teori ini dikembangkan oleh Charles Spearman. Berdasarkan teori ini, maka inteligensi terdiri dari 2 faktor, yaitu:

1. Faktor g :

  • Merupakan faktor General (umum)
  • Faktor bersama tunggal yang dimiliki bersama
  • Menggambarkan kemampuan umum seseorang
  • Cth: faktor utama yang menentukan seseorang itu pandai atau bodoh

2. Faktor s:

  • Faktor spesifik / khusus
  • Menentukan kepandaian seseorang pada bidang tertentu
  • Unik pada diri seseorang

Pada perkembangan selanjutnya banyak ahli yang merasa teori ini lebih cocok disebut sebagai teori faktor tunggal, sebab:

  • Hanya faktor g yang mendukung korelasi
  • Korelasi positif antar dua fungsi disebabkan oleh faktor g
  • Makin rendah korelasi antara 2 fungsi disebabkan faktor s
  • Makin tinggi kedua fungsi mengandung faktor g, maka korelasinya makin tinggi
  • Tes psikologi sebaiknya hanya mengukur faktor g à hubungan abstrak (PM, CFIT)

Leave a Reply